Stress? Wah banyak orang yang stress setelah pemilu?
Pasti lah karena banyak orang yang "berjudi" dengan menjadi caleg...
Sebelum pemilu banyak orang berlomba-lomba mencari dukungan dengan mengeluarkan ratusan juta uang hasil dari menjual rumah, kebun, mobil dan lain-lain untuk menyuap calon pemilih dengan berbagai cara. Ada yang memberikan uang 50ribu untuk setiap suara, ada yang memberi beras 1 karung, ada yang menyumbang semen, pasir untuk membangun jalan komplek ada yang memberi sepatu bola buat tim sepak bola di kampungnya... wah buanyak bentuk penyuapan ato yang disebut monypolitik.
Apakah penyuapan tersebut berhasil? Wah... belum tentu, karena masyarakat kini sudah semakin cerdik... sogokan "diterima dulu" masalah nyontreng "nanti dulu".
Akibatnya caleg yang udah ngeluarin uang ber-ratus-ratus juta untuk menyogok masyarakat banyak yang harus gigit jari, stress, gila dan bunuh diri.
wah... lucu juga ya denger berita di Banjarmasin Post:
GARUT, SENIN - Di Kabupaten Garut, Kabupaten Jabar, ada indikasi kuat beberapa caleg mengalami stres berat. Bahkan, sempat terjadi dua caleg dari dua parpol berbeda marah besar sambil berteriak menghujat tim suksesnya.
Hal itu terjadi setelah keduanya diindikasikan banyak menebar uang sebelum pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut. Namun, setelah dilakukan penghitungan suara, hasil sementara menunjukkan keok atau kalah telak sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan pada Polsek setempat. Namun, kini telah dilepaskan kembali ke alam bebas.
Selain itu, terdapat salah seorang caleg perempuan dari parpol tertentu yang mendadak meninggal dunia setelah mengetahui hasil perolehan suara sementara bahwa dirinya kalah telak.
Siapa yang salah dalam hal ini? Pemerintah-kah, KPU-kah, Masyarakat-kah atau Caleg itu sendiri? Jawab sendiri deh :-)
Faktor yang menyebabkan banyak Caleg stress dll adalah:
1. Sistem suara terbanyak yang digunakan dalam pemilu membuat caleg berlomba-lomba dan merasa yakin dengan "uang" suara dapat dibeli.
2. Niat menjadi caleg hanya untuk mencari kekuasaan, uang, pekerjaan dan status sosial bukan sebagai wakil rakyat.
3. Caleg tidak siap untuk gagal!
Banyak hal lain yang lebih menggelikan selain dari caleg stress, caleg lain yang gagal tetapi tidak stress banyak berbuat yang tidak masuk akal dan memalukan diantaranya menarik kembali sogokan yang sudah diberikan kepada masyarakat.. "untung aja pasir dan semen yang sudah disogok-kan kepada masyarakat tidak diambil kembali, kan udah jadi jalan lorong komplek, tapi hanya sekedar diblokir oleh si-caleg"
Banyak pelajaran yang kita dapat dari pemilu kali ini... setidaknya masyarakat sudah cerdik dalam memilih, bayangin kalo masyarakat memilih caleg stress tadi.. apa yang bakal dia ambil untuk negara ini... kedepannya sudah selayaknya Pemilu bukan menjadi ajang Bursa Kerja bagi para caleg.
Peringatan!!!!:
menjadi anggota legislatif adalah mewakili rakyat, bukan mewakili partai atau mencari pekerjaan..
Pasti lah karena banyak orang yang "berjudi" dengan menjadi caleg...
Sebelum pemilu banyak orang berlomba-lomba mencari dukungan dengan mengeluarkan ratusan juta uang hasil dari menjual rumah, kebun, mobil dan lain-lain untuk menyuap calon pemilih dengan berbagai cara. Ada yang memberikan uang 50ribu untuk setiap suara, ada yang memberi beras 1 karung, ada yang menyumbang semen, pasir untuk membangun jalan komplek ada yang memberi sepatu bola buat tim sepak bola di kampungnya... wah buanyak bentuk penyuapan ato yang disebut monypolitik.
Apakah penyuapan tersebut berhasil? Wah... belum tentu, karena masyarakat kini sudah semakin cerdik... sogokan "diterima dulu" masalah nyontreng "nanti dulu".
Akibatnya caleg yang udah ngeluarin uang ber-ratus-ratus juta untuk menyogok masyarakat banyak yang harus gigit jari, stress, gila dan bunuh diri.
wah... lucu juga ya denger berita di Banjarmasin Post:
GARUT, SENIN - Di Kabupaten Garut, Kabupaten Jabar, ada indikasi kuat beberapa caleg mengalami stres berat. Bahkan, sempat terjadi dua caleg dari dua parpol berbeda marah besar sambil berteriak menghujat tim suksesnya.
Hal itu terjadi setelah keduanya diindikasikan banyak menebar uang sebelum pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut. Namun, setelah dilakukan penghitungan suara, hasil sementara menunjukkan keok atau kalah telak sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan pada Polsek setempat. Namun, kini telah dilepaskan kembali ke alam bebas.
Selain itu, terdapat salah seorang caleg perempuan dari parpol tertentu yang mendadak meninggal dunia setelah mengetahui hasil perolehan suara sementara bahwa dirinya kalah telak.
Siapa yang salah dalam hal ini? Pemerintah-kah, KPU-kah, Masyarakat-kah atau Caleg itu sendiri? Jawab sendiri deh :-)
Faktor yang menyebabkan banyak Caleg stress dll adalah:
1. Sistem suara terbanyak yang digunakan dalam pemilu membuat caleg berlomba-lomba dan merasa yakin dengan "uang" suara dapat dibeli.
2. Niat menjadi caleg hanya untuk mencari kekuasaan, uang, pekerjaan dan status sosial bukan sebagai wakil rakyat.
3. Caleg tidak siap untuk gagal!
Banyak hal lain yang lebih menggelikan selain dari caleg stress, caleg lain yang gagal tetapi tidak stress banyak berbuat yang tidak masuk akal dan memalukan diantaranya menarik kembali sogokan yang sudah diberikan kepada masyarakat.. "untung aja pasir dan semen yang sudah disogok-kan kepada masyarakat tidak diambil kembali, kan udah jadi jalan lorong komplek, tapi hanya sekedar diblokir oleh si-caleg"
Banyak pelajaran yang kita dapat dari pemilu kali ini... setidaknya masyarakat sudah cerdik dalam memilih, bayangin kalo masyarakat memilih caleg stress tadi.. apa yang bakal dia ambil untuk negara ini... kedepannya sudah selayaknya Pemilu bukan menjadi ajang Bursa Kerja bagi para caleg.
Peringatan!!!!:
menjadi anggota legislatif adalah mewakili rakyat, bukan mewakili partai atau mencari pekerjaan..
Komentar
Posting Komentar